Pesan Damai dari Camp LAHG Sebangau

Click here for English

Written by Yohanes Prahara, BNF’s Content Creator and Media Liaison

Udara pagi itu masih terasa dingin, hujan deras baru saja mengguyur camp Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) Sebangau. Burung-burung mulai terdengan bernyayi merdu diiringi suara owa-owa yang bersahutan dari kejauhan. Suara tetesan air dari daun yang jatuh ke atap berbahan seng menjadi suara latar pagi yang menenangkan hati. Tak berselang lama, terdengar suara yang kerap kali ditunggu setiap orang yang datang dan menginap di camp tersebut.

“Makanan sudah siap, ayo segera makan selagi masih hangat,” teriak Listio dari depan pintu dapur.

Lis, nama panggilan Listio pria paruh baya asal Binuang, Kalimantan Selatan yang hingga kini masih menjadi juru masak di Camp LAHG Sebangau, sebuah camp yang dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) LLG CIMTROP Universitas Palangka Raya, yang berada di salah satu bagian kawasan Hutan Sebangau, Kalimantan Tengah. Lis sudah belasan tahun menjadi juru masak di camp hingga menjadi saksi hidup perkembangan dan sejarah camp.

 


Listio sedang membuat pisang goreng untuk kudapan sore hari di dapur Camp LAHG Sebangau.
Foto oleh Yohanes Prahara | BNF | UPT LLG CIMTROP


Tutur bahasanya yang kalem, murah senyum, dan pembawaanya yang ramah menjadi kesan yang selalu terukir di benak siapapun yang datang berkunjung di camp itu. Dan, yang tentu tak bisa dilupakan oleh siapapun yang pernah datang ke camp tersebut adalah masakan-masakan Lis yang sedap dan berkesan, yang diraciknya bersama Bu Yanti dan Bu Jariah, dua orang staf lainnya di Camp LAHG Sebangau.

Dalam sehari, Lis rata-rata memasak untuk tiga kali makan dengan menu yang berbeda dan seringkali membuat kudapan untuk sore hari. Prinsipnya adalah setiap orang harus senang dan tidak boleh kelaparan. Setiap pagi sudah mulai memasak dari pukul 04.00 dini hari.

Bagi kebanyakan orang, bekerja di hutan merupakan hal berat, penuh dengan keterbatasan, dan jauh dari hiruk pikuk kota. Berbeda dengan pilihan yang diambil Lis untuk bekerja di camp, dia merasa sangat senang dan damai selama bekerja di hutan dan jauh dari kota.

“Saya tidak pernah merasa kesepian, padahal sering berada sendirian saja di camp jika staf lapangan cuti. Saya memiliki banyak hal yang dapat saya kerjakan di camp ini dan hal itu membuat saya senang,” ungkap Lis saat ditemui akhir pekan lalu di Camp LAHG.

Sembari menuangkan pupuk organik dari kotoran kambing di polybag tempatnya menanam buah strawberry, Lis bercerita, untuk mengisi waktunya tinggal di camp yang dikelilingi hutan belantara, dia menanam beraneka bunga dan buah di pot ataupun polybag. Bibit tanaman ia beli sendiri dari uang pribadi dan sebagian lagi didapat dari teman-temannya ketika berkunjung ke camp.


Listio sedang makan siang usah melakukan semua kegiatannya di Camp LAHG Sebangau.
Foto oleh Yohanes Prahara | BNF | UPT LLG CIMTROP



“Bibit rosela ini diberi oleh teman saya, sedangkan pupuk dan tanah subur biasanya saya beli sendiri. Jika camp banyak bunga dan buah-buahan akan tampak indah dan semua orang pasti akan senang,” ujarnya sambil menunjukkan tanaman roselanya.

Menurut Lis, bekerja sebagai juru masak di Camp LAHG menjadikan dirinya belajar banyak tentang arti konsevasi. Pengetahuan tentang habitat, gambut, hingga hewan-hewan penghuni hutan Sebangau didapatnya dari para peneliti yang datang. Dia merasa betapa pentingnya menjaga kelestarian habitat dan biodiversitas di Sebangau.

“Saya bisa tahu tentang owa-owa, orangutan, beruang, hingga ular dari obrolan dan cerita teman-teman peneliti, ternyata jika hutan ini habis terbakar atau hancur karena manusia maka semua hewan juga akan hilang. Hal itu akan sangat disesali, kasihan anak cucu kita nanti hanya bisa tahu hewan-hewan itu dari cerita atau buku saja,” tuturnya sembari berayun di hammock ungunya di sudut ruang makan.

Listio sedang membuat pot dari sepatu bot bekas yang ada di Camp LAHG Sebangau.
Foto oleh Yohanes Prahara | BNF | UPT LLG CIMTROP

Lis menambahkan, LAHG adalah lokasi penelitin satwa, habitat, dan hutan rawa gambut. Flora dan fauna yang beragam membuat LAHG memiliki nilai penting untuk dijaga dan dilestarikan. “Kawasan ini harus tetap dijaga keberadaan, jangan sampai hancur maupun rusak. Semoga saja tidak akan menjadi kawasan wisata, jika banyak orang datang pasti hewan-hewan akan takut dan tersingkir. Roh konservasi yang telah ada juga akan perlahan memudar,” tambahnya dengan nada bicara penuh harap.

Sebelum masa pandemi Covid 19, tak jarang dirinya ikut dalam setiap ekspedisi yang dilakukan oleh CIMTROP dan BNF dalam kegiatan penelitian maupun survei di hutan. Hal tersebut memberinya pengalaman haru dan pengetahuan tentang hutan di Kalimantan Tengah.

Di sela-sela waktu luangnya, Lis membuat pupuk organik dari kulit telur hingga kulit buah yang diolahnya untuk pupuk tanaman-tanaman di camp. Terkadang juga membuat pot dari sepatu boot yang sudah tidak terpakai hingga bak mandi yang sudah rusak.

“Simon (Simon Husson, Direktur Eksekutif Borneo Nature Foundation Internasional) pernah terkejut ketika saya pakai bak mandi sebagai media tanam, tapi saya tertawa dan mengatakan bahwa itu sudah rusak. Sangat disayangkan jika barang bekas hanya dibuang saja padahal masih bisa kita pakai,” ucapnya sambil tertawa.

Lis juga mengatakan, dirinya akan tetap berkarya untuk camp dan bekerja selama dirinya masih kuat dan dibutuhkan oleh CIMPTROP dan BNF. Dirinya masih ingin membuat orang senang dan sangat takut jika ada yang membenci dirinya.

“Saya hanya ingin membuat semua orang merasa senang, itu sudah membuat saya bahagia dan damai. Hal itu yang membuat saya betah bekerja di sini, yang penting semua yang saya lakukan dapat menyenangkan hati teman-teman semua. Kalau orang senang maka pasti akan membawa kebahagiaan untuk orang lain di sekitarnya,” ujarnya sembari menggoreng pisang untuk kudapan di sore hari.

Lis berharap teman-teman mau membantunya dalam menyediakan tanah subur maupun pupuk agar tanaman buah dan sayuran berkembang dengan baik dan camp semakin indah serta asri. Selain itu, CIMTROP dan BNF semakin berkembang lagi serta tetap menjaga habitat dan seisinya di LAHG Sebangau.

“Selamat Hari Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 kepada semua keluarga besar CIMTROP dan BNF, semoga semakin diberkati oleh Tuhan dan tetap konsisten dalam menjaga LAHG Sebangau,” tutupnya sambil menghias pohon natal dari bekas bungkus kopi.

 


Listio di depan pohon natal dari bekas bungkus kopi
Foto oleh Yohanes Prahara | BNF | UPT LLG CIMTROP


Share