“Orangutan Butuh Orang yang Peduli”

Click here for English

Rabu (19/8/2020) siang itu, di sebuah dangau beratap ilalang di ujung Desa Kereng Bangkirai, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah itu, lima remaja tampak duduk melingkar berjarak 1,5-2 meter satu sama lain. Sembari bermasker, dengan antusias mereka berdiskusi, memilih dan memilah kalimat yang tepat tentang penyelamatan orangutan untuk nantinya disampaikan di media sosial dan lingkungan sekitar mereka.

Sejurus kemudian, Mahda (14), satu dari lima remaja tersebut tiba-tiba beringsut dari tempatnya duduk dan mengambil selembar kertas berukuran HVS serta menuliskan kalimat: ‘Take action now!!!’. Dia lalu meyambungnya dengan kalimat ‘#saveorangutan, orangutan butuh orang yang peduli’.

“Orangutan terancam punah. Kami sebagai generasi muda yang tinggal di dekat hutan ikut sedih. Oleh karena itu, orangutan harus dilestarikan dan perlu lebih banyak orang untuk peduli,” ujar Mahda saat menjelaskan perihal pesan-pesan yang ditulisnya.

“Sebagai primata mereka sangat berguna bagi hutan. Misalnya, dia makan buah, terus buang air besar, ada bijinya, dan kemudian bijinya bisa tumbuh jadi tanaman baru. Begitu seterusnya,” lanjut dia.

Ya, siang itu, Mahda bersama empat teman sebayanya berinisiatif memperingati Hari Orangutan Internasional 2020. Mereka adalah anggota komunitas Sebangau Rangers, sebuah komunitas anak-anak dan remaja peduli konservasi lingkungan yang tinggal di dekat kawasan hutan Sebangau. Komunitas ini diinisiasi oleh Divisi Edukasi Borneo Nature Foundation (BNF).


Komunitas Sebangau Ranger berkumpul mendiskusikan pernyataan mereka untuk perlindungan orangutan.


Anggota Sebangau Rangers tersebar di berbagai sekolah seperti SMKN 5 Palangka Raya, SMPN 7 Palangka Raya, dan MTs Raudhatul Jannah. Kegiatan komunitas ini berupa pendidikan konservasi, field trip di Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG), dan kegiatan kepemudaan lainnya.

Sejak April 2020, kegiatan Sebangau Rangers sempat dihentikan karena pandemi. Namun, sejak Juli 2020, kegiatan dimulai kembali dengan tetap mengikuti protokol Covid-19, seperti pengecekan suhu tubuh dengan thermometer tembak, dan jarak antarpeserta diatur.

“Jika pertemuan sebelum pandemi diselingi kegiatan observasi di lapangan, pada masa kebiasaan baru kegiatan berubah menyesuaikan aturan. Setiap peserta Sebangau Ranger wajib datang dalam keadaan sehat dan mendapat izin dari orangtua mereka,” ungkap Staf Edukasi BNF, Aloysius Dinora (27), yang siang itu mendampingi kegiatan Sebangau Rangers.


Mahda, salah satu anggota Sebangau Ranger menunjukkan pernyataan sikapnya untuk perlindungan orangutan


Hari orangutan sedunia

Namun, pertemuan Rabu siang itu menjadi hal spesial bagi anak-anak Sebangau. Kegiatan difokuskan pada perayaan Hari Orangutan Sedunia 2020, sebuah hari yang menjadi peringatan betapa pentingnya makna ekologis keberadaan spesies ikonik di hutan-hutan dekat mereka, orangutan.

“Orangutan-orangutan di hutan di Kalimantan kini terancam. Tiap tahun musim kemarau hutannya terbakar, ada juga orang yang ambil kayu-kayu di hutan, tebang sembarangan. Jadi, hari ini kami bersama-sama meminta kepada orang-orang untuk melindungi hutan agar orangutan tidak musnah, dan generasi kami tetap bisa melihat mereka,” ucap Icha (14), anggota Sebangau Rangers lainnya.


Igen, salah satu tetua di Sebangau, menceritakan tentang orangutan yang mudah ditemui di tepian Sungai Sebangau pada tahun 1990an.


Ya, berbeda dengan orang-orang tua mereka, kini tidak mudah bagi anak-anak di sekitar hutan Sebangau dapat melihat orangutan. Bahkan, sebagian anak-anak di kawasan tepian hutan rawa gambut itu tak pernah lagi melihat satu dari empat spesies kera besar yang ada di bumi tersebut.

Hal ini seperti diceritakan oleh Igen (50), Ketua RT 2 RW 1, Kelurahan Kereng Bangkirai. Dahulu, pada tahun 1990-an, saat dia muda dan mulai hidup sebagai nelayan tangkap tradisional (pekerjaan hampir sebagian besar warga lokal di tepian hutan gambut Sebangau), sangat mudah menemui orangutan, khususnya saat menginap di gubuk-gubuk yang terdapat di hutan.

“Bahkan, tidak perlu kami harus masuk ke dalam hutan. Di sepanjang sungai menuju kawasan hutan, orangutan mudah ditemui. Kalau monyet tentunya sering sekali. Bekantan juga. Mereka (orangutan) biasanya menyisiri pohon-pohon yang ada di pinggir sungai,” ungkap Igen.

Seiring perjalanan waktu, perambahan hutan terjadi dan semakin masif, terutama sejak program sejuta hektar dicanangkan Pemerintahan Soeharto. “Sejak itulah kayaknya perambahan dan kerusakan hutan sering terjadi, kebakaran pun menjadi kerap terjadi juga dan otomatis ini akan mengurangi populasi orangutan. Ketika hutan dirambah dan dijarah, kebakaran pasti terjadi,” tutur dia.

Kini, sejak perambahan hutan dilarang, perusakan hutan cenderung menurun. Namun, populasi orangutan telah terlanjur menurun. Tak lagi mudah bagi warga untuk menemui orangutan, kecuali sesekali saat mereka mencari ikan jauh di dalam kawasan hutan.

Aktivitas keseharian anak-anak sebangau umumnya telah berbeda dengan orang-orang tua mereka yang sejak kecil dan muda masuk ke hutan untuk mencari ikan. Situasi ini juga makin menjauhkan anak-anak Sebangau untuk mengenal secara langsung primata yang menjadi spesies payung bagi kelangsungan ekosistem hutan tersebut.


Komunitas Sebangau Ranger mendapat kesempatan belajar tentang perangkap kamera dati tim lapan BNF di Hutan Sebangau


“Oleh karena itu, kami sebagai orangtua, sangat senang sekali dengan adanya kegiatan Sebangau Rangers yang memperkenalkan kembali pentingnya orangutan di hutan. Hal ini penting agar generasi muda ke depan turut menjaga kelestarian orangutan di Sebangau,” ujar Igen.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2016 memperkirakan, metapopulasi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) tinggal 23%, yang akan lestari dalam 100-500 tahun ke depan. Dengan catatan, ancaman tidak berkurang atau hilang akibat dari konversi hutan pada habitat orangutan menjadi fungsi lain.

Hasil penelitian Alexander Nater et al, berjudul “Morphometric, Behavioral, and Genomic Evidence for a New Orangutan Species” yang dipublikasikan di Jurnal Current Biology (2018), menyebutkan, dunia kehilangan hampir 150.000 individu orangutan di Pulau Kalimantan dalam 16 tahun terakhir akibat hilangnya habitat dan pembunuhan. Masih berdasarkan studi yang sama, diperkirakan kita akan kembali kehilangan 45.000 individu lainnya pada 2050. Terkait dengan penurunan populasi tersebut, The International Union for Conservation of Nature [IUCN] telah memasukkan tiga spesies Orangutan yang ada di Indonesia dalam status kritis (critically endangered).

“Sebagai genarasi masa depan kami berharap semoga tak ada lagi yang memburu orangutan. Tak ada lagi yang tebang pohon, supaya orangutan masih punya rumah,” tandas Mahda.

Ditulis oleh Mohamad Burhanudin | Manajer Komunikasi BNF

Share